Rabu, 20 Maret 2013

Perbedaan antara konseling dengan psikoterapi

Pada dasarnya konseling dan terapi bertujuan sama-sama ingin membantu klien agar dapat memecahkan suatu permasalahan secara bersama-sama. Oleh sebab itu, terdapat juga perbedaan diantara keduanya.
 Menurut Stefflre & Grant 1972, perbedaan antara konseling dengan psikoterapi yaitu:

Konseling ditandai oleh jangka waktu yang lebih singkat, lebih sedikit waktu pertemuannya, lebih banyak melakukan evaluasi psikologis, lebih memperhatikan masalah sehari-hari klien, lebih memfokuskan pada aktivitas kesadaran, lebih memberikan nasihat, kurang berhubungan dengan transferens, lebih menekankan pada situasi yang riil, lebih kognitif dan berkurang intensitas emosi, lebih menjelaskan atau menerangkan, dan lebih sedikit kekaburannya.
Corsini (1989) konseling dan psikoterapi bukan berbeda secara kualitatif tetapi perbedaannya pada tingkat kuantitatif. Psikoterapi (psike: jiwa/mental dan terapi : penyembuhan) dapat diartikan sebagai penyembuhan jiwa atau penyembuhan mental.
Menurut Corey (1988) beda konseling dan psikoterapi:
-          Konseling : Berjangka pendek, peningkatan kesadaran dan kemungkinan memilih, difokuskan pada masalah, membantu individu untuk menyingkirkan hal-hal yang menghambat pertumbuhannya, individu dibantu untuk menemukan sumber-sumber pribadi agar bisa hidup lebih efektif.
-          Psikoterapi : Difokuskan pada proses-proses tidak sadar, berususan dengan pengubahan struktur kepribadian, mengarah pada pemahaman diri yang intensif tentang dinamika-dinamika yang bertanggung jawab atas terjadinya krisis-krisis kehidupan ketimbang hanya berurusan dengan usaha mengatasi krisis kehidupan tertentu.


h http://books.google.co.id/books?id=-vjvjGDxJi4C&pg=PA85&lpg=PA85&dq=perbedaan+konseling+dengan+psikoterapi&source=bl&ots=nxgmNl-41p&sig=wBhmsIIf9oscAcBzP9ORgi7xfVQ&hl=id&sa=X&ei=VcNJUYm0F8HYrQexqIHoBQ&redir_esc=y#v=onepage&q=perbedaan%20konseling%20dengan%20psikoterapi&f=false

http://arpan.guru-indonesia.net/artikel_detail-18306.html


Pengertian Psikoterapi

Psikoterapi yang lahir pada pertengahan dan akhir abad yang lalu, dilihat secara etimologis mempunyai arti sederhana, yakni “psyche” yang artinya jelas, yaitu “mind” atau sederhananya: jiwa dan “therapy” dari Bahasa Yunani yang berarti “merawat” atau “mengasuh”, sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah perawatan terhadap aspek kejiwaan seseorang. Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Pengertian psikoterapi mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosional dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran, dan emosinya seperti halnya proses reedukasi (pendidikan kembali), sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.
Dalam Oxford English Dictionary, perkataan “psychotherapy” tidak tercantum, tetapi ada perkataan “psychotherapeutic” yang diartikan sebagai perawatan terhadap sesuatu penyakit dengan mempergunakan teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis. Menurut Carl Gustav Jung sebagai mana dikutip dalam Nuansa-nuansa Psikologi Islam, menyatakan bahwa pengertian psikoterapi telah melampaui asal-usul medisnya dan tidak lagi merupakan suatu metode perawatan orang sakit. Psikoterapi yang paling berhasil ketika individu memasuki terapi sendiri dan memiliki keinginan kuat untuk berubah.

http://www.referensimakalah.com/2012/11/pengertian-psikoterapi.htm

http://books.google.co.id/books?id=-vjvjGDxJi4C&pg=PA154&lpg=PA154&dq=pengertian+psikoterapi&source=bl&ots=nxgmNl_12g&sig=K1IOh9iYfr9dE4ZHMOVBOaDw78E&hl=id&sa=X&ei=Qr5JUeD_HMfIrQeypYGABw&sqi=2&redir_esc=y#v=onepage&q=pengertian%20psikoterapi&f=false 

Rabu, 07 November 2012

Multikulturalisme

Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.
Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho’ Muzhar).

Jenis Multikulturalisme. Berbagai macam pengertian dan kecenderungan perkembangan konsep serta praktik multikulturalisme yang diungkapkan oleh para ahli, membuat seorang tokoh bernama Parekh (1997:183-185) membedakan lima macam multikulturalisme (Azra, 2007, meringkas uraian Parekh):
  1. Multikulturalisme isolasionis, mengacu pada masyarakat dimana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.
  2. Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan meraka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di beberapa negara Eropa.
  3. Multikulturalisme otonomis, masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kutural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Perhatian pokok-pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra sejajar.
  4. Multikulturalisme kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (concern) dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka.
  5. Multikulturalisme kosmopolitan, berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing. 
 Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dengan tingkat keanekaragaman yang sangat kompleks. Masyarakat dengan berbagai keanekaragaman tersebut dikenal dengan istilah mayarakat multikultural. Bila kita mengenal masyarakat sebagai sekelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga mereka mampu mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu (Linton), maka konsep masyarakat tersebut jika digabungkan dengan multikurtural memiliki makna yang sangat luas dan diperlukan pemahaman yang mendalam untuk dapat mengerti apa sebenarnya masyarakat multikultural itu.


http://id.wikipedia.org/wiki/Multikulturalisme

Akulturasi Psikologis

Akulturasi adalah penggabungan dua budaya yang berbeda yang merupakan hasil dari proses interaksi. Istilah akulturasi atau culture contact (kontak kebudayaan) mempunyai pengertian proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu di hadapkan dengan unsur-unsur dari kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan di olah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi akulturasi
Terjadinya akulturasi adalah perubahan sosial budaya dan struktur sosial serta pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan.
ada dua faktor yang menyebabkan akulturasi dapat terjadi, yaitu:
Faktor Intern
  • Bertambah dan berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi)
  • Adanya penemuan baru. (Discovery) Penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada. (Invention). Penyempurnaan penemuan baru. (Innovation pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada. Penemuan baru didorong oleh kesadaran masyarakat akan kekurangan unsur dalam kehidupannya, kualitas ahli atau anggota masyarakat.
  • Konflik yang terjadi dalam masyarakat.
  • Pemberontakan atau revolusi
Faktor Ekstern
  • Perubahan alam
  • Peperangan
  • Pengaruh kebudayaan lain melalui difusi (penyebaran kebudayaan), akulturasi (pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi (pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi).
Faktor-faktor yang memperkuat potensi akulturasi dalam taraf individu adalah faktor-faktor kepribadian seperti toleransi, kesamaan nilai, mau mengambil resiko, keluesan kognitif, keterbukaan dan sebagainya. Dua budaya yang mempunyai nilai-nilai yang sama akan lebih mudah mengalami akulturasi dibandingkan dengan budaya yang berbeda nilai. 
Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai perilaku dan kognisi manusia.
Jadi, akulturasi psikologis adalah proses perilaku sosial dari percampuran budaya asing dengan budaya setempat tanpa harus menghilangkan kebudayaan setempat, dan lambat laun perilaku atau budaya asing tersebut dapat diterima oleh masyarakat setempat.
 
 http://www.psychologymania.com/2012/06/faktor-yang-mempengaruhi-akulturasi.html 
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi

Senin, 15 Oktober 2012

Akulturasi dan Relasi Internakultural


Pengertian Akulturasi
Akulturasi merupakan proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayan asing itu lambat laun dapat diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnnya kebudayaan itu sendiri.
Sebagai contoh dari akulturasi adalah Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan India dan kebudayaan Indonesia. Meskipun itu telah mempengaruhi kebudayaan setempat, namun hal tersebut tidak menghilangkan kebudayaan aslinya. Bisa juga dikatakan saling mempengaruhi kebudayaannya.

Pengertian Relasi Internakultural
Relasi internakultural atau biasa disebut dengan komunikasi budaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosio ekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Menurut Stewart L. Tubbs, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik, atau perbedaan-perbedaan sosio ekonomi). Karena kebudayaan itu sendiri adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi. Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.

Berdasarkan definisi di atas dapat dikatakan bahwa akulturasi dan relasi internakultural saling berkaitan atau saling mempengaruhi. Karena akulturasi itu sendiri adalah percampuran budaya namun tidak menghilangkan budaya aslinya, dan tentu saja dalam proses akulturasi dipengaruhi oleh relasi internakultural untuk berkomunikasi, agar dalam proses tersebut dapat beradaptasi dan dapat menerima kebudayaan luar.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_antarbudaya
http://www.pengertiandefinisi.com/2011/05/pengertian-akulturasi.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi

Senin, 08 Oktober 2012

Transmisi Budaya dan Biologis Serta Awal Perkembangan dan Pengasuhan


Pada dasarnya transmisi budaya adalah Bagaimana mengirimkan informasi dari satu generasi ke generasi lain atau selanjutnya tentang sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan.
Bentuk dari transmisi budaya:
1.     Sosialisasi
Menurut Soerjono Soekanto, sosialisasi adalah suatu proses dimana anggota masyarakat baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat dimana ia menjadi anggota. Atau sosialisasi adalah suatu proses atau seluruh proses seumur hidup seorang individu tentang bagaimana cara seorang individu mempelajari kebiasaan-kebiasaan tentang cara hidup, menyesuaikan diri, norma-norma dan lain-lain.

2.     Akulturasi
Akulturasi adalah proses sosial dimana suatu kelompok dengan membawa kebudayaan tertentu bertemu atau dihadapkan pada suatu kelompok yang memiliki kebudayaan asing atau lain, tanpa menghilangkan kebudayaan aslinya.

3.     Enkulturasi
Enkulturasi adalah proses seorang individu mempelajari budaya atau kultur  dan ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui proses belajar.

Pengaruh Transmisi Budaya Terhadap Perkembangan Psikologi Individu

1.     Pengaruh sosialisasi terhadap perkembangan psikologi individu. Sosialisasi sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi individu karena sosialisasi merupakan suatu proses tentang bagaimana cara individu mempelajari tentang kebiasaan-kebiasaan cara hidup. Tanpa mempelajari itu maka individu tidak akan dapat hidup normal atau anti sosial. Sehingga psikologi individu pun akan terganggu atau tidak berkembang (tidak dapat menyesuaikan diri).
2.     Pengaruh akulturasi terhadap perkembangan psikologi individu. Akulturasi mempengaruhi perkembangan psikologi individu melalui suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dihadapkan oleh kelompok manusia lainnya dengan kebudayaan asing yang dimilikinya atau dibawanya. Sehingga saling mempelajari kultur tersebut tanpa harus menghilangkan kultur aslinya.
3.     Pengaruh enkulturasi terhadap perkembangan psikologi individu. Pada dasarnya enkulturasi mempelajari budaya atau kultur dari satu generasi ke generasi lain dengan melalui suatu proses belajar. Enkulturasi sangat mempengaruhi perkembangan psikologi individu karena enkulturasi terjadi pada lingkungan yang menerapkan aturan-aturan yang ada (adat, sistem norma, dan lain-lain).
Awal Masa Perkembangan  dan Pola keleketan Pada Ibu atau Pengasuh
Berdasarkan awal masa perkembangan dan pola kelekatan pada ibu atau pengasuh, transmisi budaya dapat terjadi pada setiap individu. Dimana hal tersebut melalu proses akulturasi maupun enkulturasi yang mempengaruhi psikologis individu. Terdapat kesamaan dan perbedaan dalam transmisi budaya yang mempengaruhi pola perkembangan seorang. Jika dari kecil seorang anak terlalu banyak di asuh oleh pengasuh, maka anak tersebut akan lebih dekat atau melekat kepada pengasuh tersebut. Namun jika seorang anak dari kecil di asuh oleh ibunya, maka anak tersebut akan dekat dengan ibunya. Oleh karena itu awal masa perkembangan sangat penting, karena itu juga merupakan proses sosialisasi, akulturasi dan enkulturasi.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya
http://www.imadiklus.com/2012/04/kajian-antropologi-teknologi-pendidikan-kasus-transmisi-budaya-belajar.html